Kamis, 14 Mei 2020

Susi Sugianti Guru TK yang Ajarkan Toleransi Sedari Dini

Susi Sugiarti
Susi Sugiarti

Mengajarkan toleransi pada orang dewasa saja, bukan main susahnya, apalagi jika harus menjelaskannya pada anak usia TK. Itulah hal yang dirasakan oleh seorang guru Susi Sugianti, seorang guru TK di Kupang, NTT yang awalnya tidak tinggal ditempat tersebut karena mengikuti tugas suami. Menjadi guru di tempat yang beragam agamanya yang minoritas, membuat Susi Sugianti pun harus bijak serta harus ekstra hati-hati dalam menjawaab pertanyaan seputar kebiasaan agama yang dilontarkan oleh siswanya, apalagi siswanya yang masih belum harus paham tentang agama namun hal inilah yang terjadi guna menumbuhkan ajaran agama yang dianut oleh setiap siswanya. Dalam berbagai perbedaan beragama oleh siswa maka rasa ingin mengajar dengan setiap pertanyaan yang mengandung hal-hal agama harusnya dengan hati-hati dan tertuang dalam ajaran agama tersebut. 

Seringnya Susi Menghadapi Pertanyaan Soal Perbedaan Agama
Jika Susi mengajar di daerah asalnya Subang, kemungkinan besar ia takkan dihadapkan dengan pertanyaan seputar perbedaan kebiasaan agama dari siswanya. Namun, takdir membawanya mengajar TK di Kupang, NTT, karena ia ikut dengan suaminya yang kebetulan mengajar di sana. Hal itu tidak membuat semangat mengajar bagi Susi untuk terus mengejar cita-citanya agar anak bangsa bisa menuntut ilmu setinggi-tingginya. Dalam mengajar mengajar di timur Indonesia, Susi kerap ditanyai siswanya terkait kebiasaan agama yang berbeda. Pertanyaan ini kadang membuat dirinya cukup terenyah karena rasa ingin tahu oleh siswanya yang mana kurang pembelajaran tentang berbedanya keyakinan beragama bagi setiap orang.
Salah satu pertanyaan yang kerap ditanyakan siswanya adalah mengapa ia tak bisa makan babi, sedangkan temannya boleh memakannya. Dengan pertanyaan tersebut Susi pun menjelaskan bahwa perbedaan agama yang dianut inilah yang membuat adanya larangan atau tidak diperbolehkannya memakan babi sesuai aturan dan ajaran agama, membuat babi tak boleh dikonsumsi oleh siswanya tersebut. Dirinya pun sangat berusaha sebijak mungkin menjawab pertanyaan sensitif ini, agar tak tercipta jarak atau perbedaan yang mendasar dalam hal berteman antara siswanya yang berbeda agama. Karna di Indonesia banyak adanya perbedaan keyakinan antara sesama umat.
Mengingat Islam merupakan agama minoritas di sana, Susi mengusulkan pada pihak sekolah untuk membuat program keagamaan setiap Jumat. Agar para siswa yang menganut agama Islam lebih tahu banyak tentang agama Islam guna menghindari terjadinya salah ajaran dalam beragama. Ia juga menginisiasi acara untuk menumbuhkan toleransi antar siswanya yang berbeda agama. Dengan menggabungkan acara natal dan tahun baru di waktu yang sama, maka siswa muslim dan non-muslim bisa sama-sama menampilkan bakatnya untuk memeriahkan acara bagi siswa disekolahnya.

Pengabdian Susi Sugianti yang Berbuah Manis 
Tak hanya mengajarkan toleransi pada siswa, namun Susi juga merupakan guru yang begitu sangat kreatif. Karya tulisnya yang bertemakan pelatihan kreativitas anak lewat menggambar, membuatnya diganjar predikat Guru TK Berprestasi di tingkat nasional. Bahkan, berkat pengabdiannya sebagai seorang guru TK kreatif, ia pun diundang langsung ke negara Denmark untuk melihat kegiatan belajar di sana untuk pengalaman mengajar didaerahnya yang begitu minim fasilitas. 
Mengingat dedikasi yang diberikan oleh Susi untuk dunia pendidikan Indonesia ini, tentu tak ada salahnya ia dianugerahi Asuransi Syariah Indonesia dari Allianz. Dengan adanya Produk Asuransi Syariah Allianz ini, Susi bisa mendapatkan santunan antar sesama karna saling membantu melakukan kebaikan yang #AwaliDenganKebaikan, jika tiba-tiba ia jatuh sakit saat tengah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Related Posts

Susi Sugianti Guru TK yang Ajarkan Toleransi Sedari Dini
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.