Kamis, 23 Maret 2017

Sejarah Kain Sasirangan


            Pada zaman Kerajaan Banjar dahulu Kain Sasirangan dianggap sebagai kain adat. Kain Sasirangan merupakan kain adat Suku Banjar merupakan etnoreligius yang menimpati sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan. Karena bagi kaum pria mengenakan Kain Sasirangan sebagai penutup kepala yang biasa disebut dengan laung. Selain digunakan sebagai laung, kaum pria pada Suku Banjar juga menggunakan Kain Sasirangan itu sebagai ikat pinggang. Sementara kaum perempuannya menggunakan kain Sasirangan yaitu sebagai kemben yang menutupi tubuh dan juga sebagai selendang khas daerah Kalimantan Selatan khususnya Kota Banjarmasin atau yang lebih dikenal dengan di Kalimantan Selatan dengan nama Kain Sasirangan. Kain ini merupakan bagian budaya Kalimantan Selatan.

            Selain digunakan sehari-hari, pada sejarah Sasirangan diceritakan juga bahwa kain Sasirangan juga sering digunakan dalam berbagai ritual adat pada masa lalu. Seperti pengobatan yang dilakukan oleh seorang dukun untuk menyembuhkan salah satu penyakit pada waktu dulu. Seiring perkembangan zaman, kain Sasirangan kini lebih mengarah untuk keperluan fashion saja. Penggunaannya pun lebih kreatif, tidak lagi digunakan hanya sekedar sebagai kemben. Tapi dijadikan sebagai bahan untuk membuat pakaian saja dengan desain yang menarik karena motif Kain Sasirangan saat ini sudah banyak ragam corak. Bahkan kain Sasirangan kain Khas Kalimantan Selatan ini sudah dianggap sebagai Batiknya Kalimantan Selatan atau Batik Banjar yang keberadaannya sudah disamakan dengan batik luar daerah terutama batik Jawa.

            Sasirangan menurut tetua adat Banjar dulu di pakai untuk pengobatan orang sakit, dan juga digunakan sebagai laung (ikat kepala adat Banjar), Kakamban (serudung), udat (kemben), babat (ikat pinggang), juga tapih bahalai (sarung untuk perempuan) dan lain sebagainya. Kain ini juga dipakai untuk upacara adat Banjar. Kain Sasirangan bukan lagi diperuntukkan hanya untuk spiritual, tapi sudah jadi pakaian kegiatan sehari-hari. Di Pemerintahan Daerah Kalimantan Selatan, Sasirangan disejajarkan dengan Batik. Pada peraturan Gubernur Kalimantan Selatan 91 tahun 2009 tentang standarisasi Pakaian Dinas pegawai Negeri sipil di lingkungan Pemprov Kalsel. Pegawai negeri sipil di bebaskan memilih untuk memakai Sasirangan di hari yang sudah di tentukan.

            Kain Sasirangan adalah kain yang didapat dari proses pewarnaan rintang dengan menggunakan bahan perintang yaitu seperti tali, benang atau sejenisnya menurut corak tertentu. Pada dasarnya teknik pewarnaan rintang mengakibatkan tempat tertentu akan terhalang atau tidak tertembus oleh penetrasi larutan zat warna. Prosesnya sering diusahakan dalam bentuk industri rumah tangga, karena tidak adanya lagi diperlukan peralatan khusus, cukup dengan tangan saja untuk mendapatkan motif maupun corak tertentunya. Sebagai bahan baku kainnya, yang banyak digunakan hingga saat ini adalah bahan kain yang berasal dari serat kapas yaitu (katun). Hal tersebut disebabkan karena mulai tumbuhnya pembuatan kain celup ikat adalah sejalan dengan proses celup rintang yang seperti batik dan tekstil adat. Untuk saat ini pengembangan bahan baku meningkat, dengan penganekaragaman bahan baku non kapas seperti : polyester, rayon, sutera, dan lain-lain masih banyak lagi bahan-bahan lainnya untuk sasirangan.

            Desain/corak didapat dari teknik-teknik jahitan dan ikatan yang ditentukan oleh faktor, selain dari komposisi warna dan efek yang timbul antara lain : jenis benang atau jenis bahan pengikat. Dengan mengkombinasikan antara motif asli yang satu dengan motif asli yang lainnya, maka kain kain sasirangan makin menarik dan kelihatan modern Selain itu motif tersebut dimodifikasi juga sehingga menciptakan motif yang sangat begitu indah namun tidak meninggalkan ciri khasnya.

Related Posts

Sejarah Kain Sasirangan
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.